Perjalanan ke Korea Selatan yang Tidak Kamu Lihat di Drama Korea

 Penulis: Pradeas Amelia Vega

Sumber: https://blog.kobieducation.com/kota-terbaik-di-korea-selatan/

Kalau mendengar kata Korea Selatan, kebanyakan orang pasti langsung membayangkan gedung pencakar langit di Seoul, jalanan ramai di kawasan Myeongdong, kafe-kafe aesthetic yang sering muncul di media sosial, atau lokasi syuting drama yang selalu dipenuhi wisatawan. Aku juga dulu seperti itu. Hampir semua gambaran tentang Korea Selatan yang ada di kepala aku berasal dari drama, film, dan konten travel yang sering muncul di internet. Tidak ada yang salah dengan itu, karena memang tempat-tempat tersebut menarik untuk dikunjungi. Namun semakin sering aku bepergian, semakin aku merasa penasaran dengan sisi lain dari sebuah negara. Aku mulai bertanya-tanya, bagaimana kehidupan di luar kota besar yang selalu muncul di layar televisi? Apakah Korea Selatan yang sebenarnya sama seperti yang selama ini diperlihatkan dalam drama? Atau justru ada cerita lain yang jauh lebih menarik tetapi jarang dibahas?

Rasa penasaran itu akhirnya membawa aku ke perjalanan yang berbeda. Kali ini aku sengaja menghindari sebagian besar destinasi populer yang biasanya masuk itinerary wisatawan. Aku ingin melihat Korea Selatan dari sudut yang lebih tenang. Aku ingin melihat kota-kota kecil, jalan-jalan yang tidak dipenuhi turis, pantai yang masih sepi, dan kehidupan sehari-hari masyarakat lokal yang berjalan jauh dari sorotan kamera. Dan ternyata keputusan itu menjadi salah satu perjalanan paling berkesan yang pernah aku lakukan. Karena semakin jauh aku meninggalkan keramaian Seoul, semakin aku menemukan Korea Selatan yang terasa lebih hangat, lebih manusiawi, dan jauh lebih dekat dengan kehidupan nyata.

Gyeongju, Kota yang Membuat Aku Merasa Sedang Berjalan di Masa Lalu

Sumber: https://www.agoda.com/id-id/travel-guides/south-korea/gyeongju-si/a-day-in-gyeongju-exploring-the-ancient-capital-of-korea/

Perhentian pertama aku adalah Gyeongju, sebuah kota yang sering disebut sebagai museum tanpa dinding. Sebelum datang ke sini, aku hanya tahu kalau kota ini punya banyak situs sejarah. Tapi begitu sampai, aku langsung merasa seperti masuk ke Korea dari masa lalu. Di berbagai sudut kota terdapat makam kerajaan kuno yang berbentuk bukit hijau besar. Jalanannya tenang, bangunannya tidak terlalu tinggi, dan suasananya jauh berbeda dibanding Seoul yang serba cepat.

Aku menghabiskan waktu cukup lama berjalan kaki tanpa tujuan yang pasti. Kadang aku berhenti hanya untuk melihat bangunan tradisional, kadang aku duduk di taman sambil memperhatikan warga lokal yang berolahraga atau berjalan santai. Yang paling aku suka dari Gyeongju adalah ritmenya. Kota ini tidak memaksa siapa pun untuk bergerak cepat. Semua terasa lebih lambat dan lebih damai. Saat matahari mulai turun dan lampu-lampu mulai menyala di sekitar area bersejarah, suasana kota berubah menjadi sangat romantis. Aku bahkan sempat berpikir bahwa kota ini jauh lebih menarik daripada banyak lokasi syuting drama yang selama ini sering aku lihat.

Gangneung dan Laut Timur yang Membuat Aku Betah Berlama-Lama

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Gangneung

Setelah meninggalkan Gyeongju, aku melanjutkan perjalanan ke Gangneung yang berada di pesisir timur Korea Selatan. Jujur saja, aku tidak punya ekspektasi terlalu tinggi saat datang ke sini. Tapi justru kota inilah yang membuat aku paling sulit move on setelah perjalanan selesai. Gangneung memiliki garis pantai yang panjang, laut biru yang bersih, dan suasana yang jauh lebih santai dibanding kawasan wisata pantai yang populer.

Pagi hari di Gangneung menjadi salah satu momen favorit aku selama perjalanan ini. Aku bangun sebelum matahari terbit dan berjalan menuju pantai. Udara masih dingin, ombak bergerak pelan, dan hanya ada beberapa orang yang terlihat menikmati pagi. Saat matahari perlahan muncul dari balik laut, langit berubah warna menjadi oranye keemasan. Aku berdiri cukup lama hanya untuk menikmati pemandangan itu. Tidak ada musik, tidak ada keramaian, hanya suara ombak dan angin laut. Kadang momen seperti ini jauh lebih berharga dibanding puluhan spot wisata yang dikunjungi dalam sehari.

Tongyeong, Kota Pelabuhan yang Penuh Kejutan

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Tongyeong#/media/Berkas:Korea-Tongyeong-Cityscape-07.jpg

Dari timur aku bergerak ke selatan menuju Tongyeong, sebuah kota pelabuhan yang sering disebut sebagai salah satu kota paling indah di Korea Selatan. Begitu sampai, aku langsung jatuh hati dengan suasananya. Pelabuhan kecil, perahu-perahu nelayan, bukit hijau, dan laut yang membentang luas menciptakan kombinasi yang sangat menenangkan.

Aku menghabiskan satu sore hanya berjalan di sekitar pelabuhan sambil melihat aktivitas warga lokal. Tidak banyak wisatawan asing yang aku temui di sini. Justru itu yang membuat pengalaman terasa lebih autentik. Aku bisa melihat kehidupan sehari-hari berjalan apa adanya tanpa banyak pengaruh industri pariwisata. Saat malam tiba, lampu-lampu kota memantul di permukaan air dan menciptakan suasana yang sangat hangat. Aku duduk cukup lama di tepi pelabuhan sambil menikmati udara malam dan berpikir bahwa tempat seperti ini jarang sekali masuk rekomendasi wisata Korea Selatan, padahal pesonanya luar biasa.

Desa-Desa Kecil yang Tidak Pernah Masuk Drama Korea

Salah satu hal yang paling aku nikmati selama perjalanan ini adalah ketika aku mulai masuk ke wilayah pedesaan. Di sana aku melihat sisi Korea Selatan yang jarang sekali muncul di media sosial. Jalan-jalan kecil yang membelah sawah, rumah-rumah sederhana, kebun-kebun sayur milik warga, dan pegunungan yang menjadi latar belakang hampir di setiap arah.

Aku beberapa kali berhenti hanya untuk menikmati pemandangan. Tidak ada atraksi wisata besar, tidak ada bangunan ikonik, tapi justru tempat-tempat seperti ini yang membuat aku merasa lebih dekat dengan negara yang sedang aku kunjungi. Aku melihat para petani bekerja, warga lanjut usia yang duduk di depan rumah sambil mengobrol, dan anak-anak yang pulang sekolah dengan sepeda. Semua terlihat sederhana, tetapi sangat nyata. Dan menurut aku, pengalaman seperti inilah yang sering hilang ketika kita terlalu fokus mengejar destinasi populer.

Korea Selatan yang Tidak Kamu Lihat di Drama Korea

Ketika perjalanan ini hampir berakhir, aku mulai menyadari bahwa Korea Selatan yang paling membekas bagi aku justru bukan Korea Selatan yang sering muncul di layar kaca. Bukan jalanan penuh lampu neon, bukan pusat belanja yang ramai, dan bukan lokasi syuting yang terkenal. Yang paling aku ingat adalah matahari terbit di Gangneung, sore yang tenang di Tongyeong, jalan-jalan sepi di Gyeongju, dan desa-desa kecil yang membuat waktu terasa berjalan lebih lambat.

Perjalanan ini mengingatkan aku bahwa setiap negara selalu punya sisi lain yang sering luput dari perhatian. Dan sering kali, sisi itulah yang justru memberikan pengalaman paling berkesan. Korea Selatan yang aku temukan kali ini bukan Korea Selatan yang penuh drama, tetapi Korea Selatan yang penuh ketenangan, kehangatan, dan kejutan-kejutan kecil yang sulit dilupakan. Sampai sekarang, ketika melihat foto-foto perjalanan ini, aku masih merasa ingin kembali dan menjelajahi lebih banyak sudut tersembunyi yang belum sempat aku kunjungi.

Kalau suatu hari kamu pergi ke Korea Selatan dan harus memilih antara mengunjungi tempat-tempat populer yang sering muncul di drama atau menjelajahi kota-kota kecil yang tenang seperti Gyeongju, Gangneung, dan Tongyeong, kira-kira perjalanan seperti apa yang akan kamu pilih?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jepang untuk First Timer: Tokyo, Kyoto, dan Osaka yang Wajib Dikunjungi

Kamakura Diaries: Pengalaman Menikmati Jepang yang Lebih Slow dan Authentic

Traveling ke Vietnam: Pengalaman Sederhana Yang Bikin Berkesan