Taiwan dalam 7 Hari: Night Market, Hidden Gems, dan City Vibes yang Bikin Betah



Jujur ya, sebelum ke Taiwan, aku sempat berpikir kalau negara ini mungkin bakal terasa “mirip Jepang” atau cuma sekadar tempat buat kulineran dan night market. Tapi ternyata, setelah dijelajahi langsung, Taiwan punya pesonanya sendiri yang susah dijelaskan. 


Di satu sisi, ada Taipei yang hidup dengan city vibes, night market yang ramai, cafe lucu, dan gedung-gedung modern. Tapi di sisi lain, ada tempat-tempat seperti Jiufen yang terasa seperti kota di film, suasana tenang di Taichung, sampai pengalaman kecil seperti jajan di convenience store atau sekadar jalan malam di Ximending yang somehow terasa memorable banget. 


Kalau kamu baru pertama kali ke Taiwan dan bingung harus mulai dari mana, itinerary 7 hari ini bisa jadi pilihan yang pas. Nggak terlalu buru-buru, tapi juga tetap bisa menikmati sisi terbaik Taiwan, mulai dari hidden gems, wisata ikonik, sampai kuliner yang bikin susah move on. 


Dan percaya deh, Taiwan itu tipe destinasi yang mungkin awalnya nggak terlalu masuk bucket list, tapi begitu pulang, malah bikin pengen balik lagi. 


Day 1 - First Impression Taipei & Serunya Malam di Ximending

Jujur, sebelum datang ke Taipei, aku nggak terlalu punya ekspektasi besar. Tapi begitu sampai, kesan pertama yang langsung terasa adalah suasananya yang nyaman. Kota ini terasa modern, tapi tetap punya vibe yang lebih tenang dibanding beberapa kota besar di Asia lainnya. Jalanannya rapi, transportasinya tertata, dan entah kenapa semuanya terasa cukup easy-going. 


Setelah check-in hotel dan istirahat sebentar, aku memutuskan untuk memulai perjalanan dengan santai. Karena ini hari pertama, rasanya nggak perlu terlalu ambisius, cukup menikmati suasana kota dan mulai membiasakan diri dengan ritme Taipei. Malam harinya, aku langsung menuju Ximending, salah satu area paling populer di Taipei yang sering disebut sebagai “Shibuya-nya Taiwan”. Dan jujur, ini tempat yang pas banget buat first impression Taipei. 


Begitu sampai, suasananya langsung terasa hidup. Jalanan dipenuhi orang, lampu toko menyala di mana-mana, street performer tampil di beberapa sudut, dan aroma makanan dari berbagai stand bikin suasana malam terasa makin seru. Aku menghabiskan waktu dengan jalan santai sambil melihat-lihat toko, mulai dari fashion, souvenir, sampai snack khas Taiwan. Area ini juga penuh cafe, toko lucu, dan spot yang bikin gampang banget tiba-tiba berhenti cuma karena penasaran. 


Tentu saja, bagian yang paling susah dilewatkan adalah makanannya. Hari pertama ini jadi momen buat mulai kenalan sama kuliner Taiwan, mulai dari street snack sampai minuman khas seperti bubble tea, yang rasanya memang beda kalau diminum langsung di tempat asalnya. Semakin malam, suasana Ximending justru terasa semakin hidup. Lampu kota, suara orang-orang, dan vibe santainya bikin tempat ini terasa nyaman buat sekadar jalan tanpa tujuan. 


Day 2 - Menjelajahi Sisi Ikonik Taipei: Taipei 101 hingga Night Market

Kalau hari pertama di Taipei diisi dengan suasana santai dan city vibes di Ximending, hari kedua ini rasanya seperti waktunya benar-benar mengenal sisi paling ikonik dari ibu kota Taiwan. 


Pagi hari aku memulai perjalanan dengan menuju Taipei 101, landmark yang mungkin paling identik dengan Taipei. Dari kejauhan saja gedung ini sudah langsung mencuri perhatian, tapi melihatnya dari dekat tetap terasa mengesankan. Rasanya agak sulit percaya kalau bangunan yang dulu sempat jadi salah satu gedung tertinggi di dunia ini sekarang benar-benar ada di depan mata. 


Tentu saja, aku nggak mau melewatkan kesempatan naik ke observatory-nya. Begitu sampai di atas, pemandangan kota Taipei langsung terbentang luas ke segala arah. Gedung-gedung tinggi, jalanan kota, sampai pegunungan di kejauhan membuat view dari sini terasa lengkap banget. Kalau cuaca lagi bagus, tempat ini salah satu spot terbaik buat melihat Taipei dari sudut yang berbeda. Setelah puas menikmati city view, perjalanan lanjut ke Chiang Kai-shek Memorial Hall, salah satu tempat bersejarah paling terkenal di Taiwan. 


Tempat ini punya suasana yang cukup berbeda dibanding Taipei 101. Kalau sebelumnya terasa modern dan futuristik, di sini vibes-nya jauh lebih tenang dan megah. Area halamannya luas banget, bangunannya ikonik, dan menurutku jadi salah satu spot yang paling aesthetic buat sekadar jalan santai atau foto-foto. 


Sore harinya, aku memilih menikmati waktu dengan cafe hopping sebentar sebelum lanjut ke agenda yang paling aku tunggu: night market hunting. Malam ini aku pergi ke Raohe Night Market, salah satu night market paling terkenal di Taipei. Dan jujur, begitu masuk aku langsung paham kenapa tempat ini wajib masuk itinerary. 


Suasananya ramai, penuh lampu, aroma makanan di mana-mana, dan pilihan street food yang literally bikin bingung mau mulai dari mana. Mulai dari grilled meat, pepper bun, fried snacks, sampai dessert khas Taiwan, semuanya terlihat menggoda. Aku akhirnya memilih jalan santai sambil mencoba beberapa makanan sedikit demi sedikit, karena rasanya sayang banget kalau cuma makan satu hal. 


Day 3 - Day Trip ke Jiufen dan Shifen: Sehari Serasa Masuk Dunia Film

Kalau dua hari sebelumnya lebih banyak menikmati sisi modern dan city vibes Taipei, hari ketiga ini terasa sedikit berbeda. Karena kali ini, aku memutuskan untuk keluar sejenak dari pusat kota dan pergi ke tempat yang dari awal paling membuatku penasaran yaitu Jiufen dan Shifen Old Street. Jujur, ini salah satu day trip yang paling aku tunggu selama di Taiwan. 


Destinasi pertama hari ini adalah Shifen, sebuah kawasan kecil dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding Taipei. Tempat ini terkenal dengan rel kereta yang membelah jalan kecil penuh toko dan makanan. Salah satu hal yang paling iconic di sini tentu saja adalah pengalaman melepas sky lantern


Aku menuliskan harapan kecil di lentera, lalu melihatnya perlahan naik ke langit bersama banyak lentera lain. Mungkin terdengar sederhana, tapi entah kenapa momennya terasa cukup memorable. Ada sesuatu dari suasana kecil di tempat ini yang membuat semuanya terasa lebih personal. 


Kalau masih punya waktu, banyak juga yang mampir ke Shifen Waterfall, yang sering disebut sebagai salah satu air terjun paling terkenal di area ini. Tempatnya cukup tenang dan jadi jeda yang menyenangkan sebelum lanjut perjalanan. Sore harinya, perjalanan berlanjut ke Jiufen, dan jujur, ini mungkin salah satu tempat paling magical yang aku datangi di Taiwan. 


Begitu sampai, suasananya langsung terasa berbeda. Jalan kecil berbatu, gang sempit penuh lampion merah, toko teh, dan pemandangan pegunungan serta laut di kejauhan bikin tempat ini terasa seperti setting film. Nggak heran kalau banyak orang bilang Jiufen punya vibes yang mirip dunia di film animasi. Apalagi saat sore mulai berubah jadi malam dan lampion mulai menyala, suasananya benar-benar terasa hangat, nostalgic, dan sedikit dreamy. 


Aku menghabiskan waktu dengan jalan santai sambil mencoba street snacks, mampir ke tea house, dan menikmati view tanpa terlalu buru-buru. Ini tipe tempat yang menurutku lebih enak dinikmati pelan-pelan. Saat perjalanan pulang ke Taipei malam itu, rasanya agak susah berhenti memikirkan tempat ini. Karena dari semua destinasi sejauh ini, Jiufen punya suasana yang benar-benar meninggalkan kesan. 


Day 4 - Menikmati Taipei dengan Lebih Pelan

Setelah hari sebelumnya cukup penuh dengan perjalanan ke Jiufen dan Shifen, hari keempat ini aku sengaja membuat itinerary yang lebih santai. Nggak ada agenda yang terlalu padat, cuma ingin menikmati Taipei dengan ritme yang lebih pelan sebelum pindah kota keesokan harinya. 


Pagi menjelang siang, aku memulai hari dengan mengunjungi Sun Yat-sen Memorial Hall, salah satu landmark yang menurutku punya suasana berbeda dibanding tempat-tempat sebelumnya. 


Area di sekitarnya terasa cukup tenang, dengan ruang terbuka yang luas dan suasana yang nyaman untuk sekadar berjalan santai. Dari beberapa sudut, aku juga bisa melihat view Taipei 101 berdiri megah di kejauhan, kombinasi antara bangunan modern dan suasana yang lebih tenang ini somehow terasa sangat khas Taipei. 


Aku nggak terlalu terburu-buru hari itu. Lebih banyak menikmati suasana, duduk sebentar, melihat orang-orang berlalu lalang, dan menikmati kota tanpa harus selalu mengejar checklist tempat wisata. 


Setelah itu, aku melanjutkan hari dengan cafe hopping ringan. Salah satu hal yang aku suka dari Taipei adalah banyaknya cafe kecil dengan suasana nyaman yang gampang banget bikin betah. Kadang rasanya bahkan nggak perlu itinerary terlalu penuh, tinggal duduk, menikmati kopi atau teh, dan melihat suasana kota berjalan dengan sendirinya. 


Sore hingga malam, aku menghabiskan waktu untuk jalan santai dan sedikit shopping ringan sebelum menikmati last Taipei dinner. Ada rasa aneh karena tanpa sadar, beberapa hari di kota ini berjalan cepat banget. 


Hari keempat ini mungkin bukan hari paling sibuk, tapi justru jadi salah satu yang paling berkesan. Karena kadang, momen terbaik saat traveling itu bukan selalu tempat paling ramai atau itinerary paling padat, melainkan saat kita memberi waktu untuk benar-benar menikmati sebuah kota. Dan entah kenapa, Taipei mulai terasa seperti kota yang nyaman untuk dirindukan. 


Day 5 - Menuju Taichung: Kota yang Lebih Tenang dan Penuh Hidden Gems

Nggak terasa, akhirnya tiba waktunya meninggalkan Taipei untuk sementara dan melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya: Taichung. Pagi hari aku memulai perjalanan dengan naik High-Speed Rail (HSR) dari Taipei. Jujur, salah satu hal yang aku suka dari Taiwan adalah transportasinya yang nyaman dan gampang dipahami, bahkan untuk first timer. Perjalanan menuju Taichung juga terasa cepat banget, sebelum sempat benar-benar merasa jauh dari Taipei, aku sudah sampai di kota berikutnya. 


Kesan pertama tentang Taichung langsung terasa berbeda. Kalau Taipei terasa lebih hidup dan cepat, Taichung punya suasana yang jauh lebih santai. Jalanannya terasa lebih tenang, ritmenya lebih pelan, dan ada vibe cozy yang entah kenapa langsung bikin nyaman. 


Setelah check-in hotel dan istirahat sebentar, aku memutuskan untuk mulai eksplor pelan-pelan tanpa agenda terlalu berat. Karena menurutku, Taichung itu tipe kota yang lebih enak dinikmati tanpa terburu-buru. Menjelang malam, tentu saja destinasi utama hari ini adalah Fengjia Night Market, salah satu night market terbesar dan paling terkenal di Taiwan. Dan jujur, tempat ini langsung terasa seperti surganya street food. 


Begitu masuk, suasananya ramai banget dengan deretan makanan di kanan kiri. Mulai dari fried chicken khas Taiwan, grilled skewers, bubble tea, sampai snack unik yang bahkan kadang aku nggak terlalu tahu itu apa, tapi tetap pengen coba. Aku akhirnya memilih jalan santai sambil ngemil sedikit demi sedikit, karena rasanya mustahil cuma makan satu hal di tempat seperti ini. 


Selain makanan, banyak juga toko kecil yang menjual aksesoris, pakaian, sampai barang-barang lucu yang gampang banget bikin tiba-tiba berhenti buat lihat-lihat. Hari pertama di Taichung ini mungkin nggak terlalu padat, tapi justru terasa menyenangkan. Setelah beberapa hari dengan city vibes Taipei, suasana yang lebih santai di sini terasa seperti jeda kecil yang pas. 


Day 6 - Menjelajahi Sisi Santai Taichung: Warna, Arsitektur, dan Cafe Hopping

Kalau Taipei terasa sibuk dan penuh energi, maka hari keenam ini benar-benar membuatku semakin memahami kenapa banyak orang bilang Taichung punya vibe yang berbeda. Hari dimulai dengan mengunjungi Rainbow Village, salah satu spot paling unik di Taichung. Jujur, tempat ini langsung terasa cheerful begitu sampai. 


Rumah-rumah kecil yang dipenuhi warna-warni, mural lucu di setiap sudut, sampai gambar-gambar penuh karakter membuat tempat ini terasa seperti masuk ke dunia kecil yang playful. Walaupun areanya nggak terlalu besar, menurutku tempat ini tetap worth it buat dikunjungi, apalagi kalau suka foto-foto atau tempat dengan vibes yang sedikit artsy. 


Setelah puas jalan santai dan hunting foto, perjalanan lanjut ke National Taichung Theater, salah satu bangunan paling ikonik di kota ini. Dari luar saja arsitekturnya sudah langsung menarik perhatian. 


Desain bangunannya terlihat modern tapi unik, dengan bentuk interior yang terasa hampir seperti lorong organik, berbeda banget dari gedung pertunjukan biasa. Bahkan meskipun nggak menonton show, tempat ini tetap seru buat diexplore atau sekadar duduk menikmati suasana sekitar. 


Salah satu hal yang aku paling suka dari Taichung ternyata justru suasana santainya. Jadi setelah itu, aku memilih menghabiskan sore dengan cafe hopping, sesuatu yang menurutku wajib banget dilakukan di kota ini. Taichung punya banyak cafe dengan desain cantik dan suasana nyaman yang bikin gampang betah. Ada yang minimalis, ada yang penuh tanaman, sampai cafe kecil tersembunyi yang terasa cozy banget buat sekadar duduk sambil menikmati kopi atau dessert. 


Menjelang malam, aku kembali ke hotel sambil menikmati suasana kota untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke Taipei. Rasanya sedikit berbeda dibanding awal datang, karena tanpa sadar, Taichung ternyata meninggalkan kesan yang lebih hangat dari ekspektasiku. 


Malam harinya, aku kembali naik kereta menuju Taipei dan check-in di area Ximending. Rasanya seperti kembali ke tempat yang sudah mulai terasa familiar. Dan jujur, ada rasa senang karena perjalanan belum benar-benar selesai, masih ada satu hari terakhir untuk menikmati Taiwan. 


Day 7 - Hari Terakhir di Taiwan: One Last Walk di Ximending

Nggak terasa, akhirnya sampai juga di hari terakhir perjalanan di Taiwan. Dan seperti kebanyakan trip lainnya, hari terakhir selalu punya perasaan yang agak aneh, rasanya masih pengen jalan lagi, tapi di saat yang sama juga sadar kalau sebentar lagi harus pulang. 


Karena penerbangan masih cukup santai, aku memutuskan untuk menikmati hari terakhir tanpa itinerary yang terlalu padat. Nggak ada target harus ke banyak tempat, cuma ingin menikmati Taipei untuk terakhir kalinya dengan ritme yang lebih pelan. 


Tentu saja, pilihan paling pas untuk menutup perjalanan ini adalah kembali ke Ximending. Entah kenapa, rasanya cocok banget mengakhiri trip di tempat yang juga jadi pembuka perjalanan beberapa hari lalu. Tapi kali ini suasananya terasa berbeda, lebih familiar, lebih nyaman, seperti kota ini perlahan mulai terasa akrab. 


Aku menghabiskan waktu dengan last shopping, melihat-lihat toko yang sebelumnya belum sempat dimasuki, mencari oleh-oleh, dan tentu saja sedikit kalap membeli snack khas Taiwan. Mulai dari pineapple cake, nougat crackers, bubble tea sachet, sampai beberapa skincare Taiwan yang cukup populer, rasanya selalu ada alasan buat “satu toko lagi” sebelum pulang. 


Di sela-sela itu, aku juga menyempatkan duduk di cafe kecil sambil menikmati suasana sekitar. Kadang, momen paling menyenangkan saat traveling justru sesederhana ini: duduk tanpa buru-buru, melihat orang berlalu lalang, dan pelan-pelan menyadari kalau perjalanan ini sebentar lagi selesai. Sebelum menuju bandara, aku sempat berpikir kalau Taiwan ternyata jauh lebih berkesan dari yang aku bayangkan di awal. 


Negara ini mungkin nggak selalu jadi destinasi pertama yang muncul di bucket list banyak orang, tapi justru di situlah pesonanya. Ada city vibes di Taipei, suasana santai Taichung, hidden gems seperti Jiufen, sampai pengalaman kecil seperti night market hopping yang somehow terasa memorable banget. Dan mungkin itu alasan kenapa Taiwan terasa begitu mudah untuk dirindukan. Sampai jumpa lagi, Taiwan. 


Kalau punya kesan atau pertanyaan boleh banget nih drop di kolom komentar guys, happy holiday! 





Penulis: Gilberto Arickson


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menepi Sejenak ke Bogor: Pelarian dari Hiruk Pikuk Kota

Kamakura Diaries: Pengalaman Menikmati Jepang yang Lebih Slow dan Authentic

Trip Seru ke Yogyakarta: Dari Sunrise Merapi sampai Sunset Parangtritis